Riyadhus Shalihin: Bab 4: Kebenaran

Riyadhus Shalihin
-Imam An-Nawawi-
Bab 4: Kebenaran
Pertama: Dari Ibnu Mas’ud رضي الله عنه dari Nabi صلی الله عليه وسلم, sabdanya: “Sesungguhnya kebenaran – baik yang berupa ucapan atau perbuatan – itu menunjukkan kepada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan itu menunjukkan ke syurga dan sesungguhnya seseorang itu niscaya melakukan kebenaran sehingga dicatatlah di sisi Allah sebagai seorang yang ahli melakukan kebenaran. Dan sesungguhnya berdusta itu menunjukkan kepada kecurangan dan sesungguhnya kecurangan itu menunjukkan kepada neraka dan sesungguhnya seseorang itu niscaya berdusta sehingga dicatatlah di sisi Allah sebagai seorang yang ahli berdusta.” (Muttafaq ‘alaih)
Sabda Nabi صلی الله عليه وسلم Yuriibuka, boleh dengan difathahkan ya’nya (dan boleh pula didhamahnya, artinya: “Tinggalkanlah olehmu apa saja yang engkau ragukan perihal boleh atau halalnya sesuatu dan beralihlah kepada yang tidak ada keragu-raguan perihal itu dalam hatimu.”

Kedua: Dari Abu Muhammad, yaitu Alhasan bin Ali bin Abu Thalib radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Saya menghafal sabda dari Rasulullah صلی الله عليه وسلم yaitu: “Tinggalkan apa-apa yang menyangsikan hatimu – yakni jangan terus dilakukan – dan berpindahlah kepada apa- apa yang tidak menyangsikan hatimu – yakni yang hatimu tenang jikalau melakukannya. [7] Maka sesungguhnya bersikap benar itu adalah ketenangan dan berdusta itu menyebabkan timbulnya kesangsian.” Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis shahih.

Ketiga: Dari Abu Sufyan bin Shakhr bin Harb رضي الله عنه dalam Hadisnya yang panjang dalam menguraikan ceritera Raja Hercules. Hercules berkata: “Maka apakah yang diperintah olehnya?” Yang dimaksud ialah oleh Nabi صلی الله عليه وسلم Abu Sufyan berkata: “Saya lalu menjawab: “Ia berkata: “Sembahlah akan Allah yang Maha Esa, jangan menyekutukan sesuatu denganNya dan tinggalkanlah apa-apa yang dikatakan oleh nenek-moyangmu semua.” Ia juga menyuruh supaya kita semua melakukan shalat, bersikap benar, menahan diri dari keharaman serta mempererat kekeluargaan.” (Muttafaq ‘alaih)

Keempat: Dari Abu Tsabit, dalam suatu riwayat lain disebut-kan Abu Said dan dalam riwayat lain pula disebutkan Abulwalid, yaitu Sahl bin Hanif رضي الله عنه, dan dia pernah menyaksikan peperangan Badar, bahwasanya Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda: “Barangsiapa yang memohonkan kepada Allah Ta’ala supaya dimatikan syahid dan permohonannya itu dengan secara yang sebenar-benarnya, maka Allah akan menyampaikan orang itu ke tingkat orang-orang yang mati syahid, sekalipun ia mati di atas tempat tidurnya.” (Riwayat Muslim)

Kelima: Dari Abu Hurairah رضي الله عنه berkata: “Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda:
“Ada seorang Nabi dari golongan beberapa Nabi shalawatullahi wa salamuhu ‘alaihim berperang, kemudian ia berkata kepada kaumnya: “Jangan mengikuti peperanganku ini seorang lelaki yang memiliki kemaluan wanita – yakni baru kawin – dan ia hendak masuk tidur dengan isterinya itu, tetapi masih belum lagi masuk tidur dengannya, jangan pula mengikuti peperangan ini seorang yang membangun rumah dan belum lagi mengangkat atapnya – maksudnya belum selesai sampai rampung samasekali, jangan pula seseorang yang membeli kambing atau unta yang sedang bunting tua yang ia menantikan kelahiran anak- anak ternaknya itu – yang dibelinya itu.

Nabi itu lalu berperang, kemudian mendekati sesuatu desa pada waktu shalat Asar atau sudah dekat dengan itu, kemudian ia berkata kepada matahari: “Sesungguhnya engkau – hai matahari – adalah diperintahkan – yakni berjalan mengikuti perintah Tuhan – dan sayapun juga diperintahkan – yakni berperang inipun mengikuti perintah Tuhan. Ya Allah, tahanlah jalan matahari itu di atas kita.” Kemudian matahari itu tertahan jalannya sehingga Allah memberikan kemenangan kepada Nabi tersebut. Beliau mengumpulkan banyak harta rampasan. Kemudian datanglah, yang dimaksud datang adalah api, untuk makan harta rampasan tadi, tetapi ia tidak suka memakannya. Nabi itu berkata: “Sesungguhnya di kalangan engkau semua itu ada yang menyembunyikan harta rampasan, maka dari itu hendaklah berbai’at padaku – dengan jalan berjabatan tangan – dari setiap kabilah seseorang lelaki. Lalu ada seorang lelaki yang lekat tangannya itu dengan tangan Nabi tersebut.
Nabi itu lalu berkata lagi: “Nah, sesungguhnya di kalangan kabilah-mu itu ada yang menyembunyikan harta rampasan. Oleh sebab itu hendaklah seluruh orang dari kabilahmu itu memberikan pembai’atan padaku.” Selanjutnya ada dua atau tiga orang yang tangannya itu lekat dengan tangan Nabi itu, lalu beliau berkata pula: “Di kalanganmu semua itu ada yang menyembunyikan harta rampasan.” Mereka lalu mendatangkan sebuah kepala sebesar kepala lembu yang terbuat dari emas – dan inilah benda yang disembunyikan, lalu diletakkanlah benda tersebut, kemudian datanglah api terus memakannya – semua harta rampasan. Oleh sebab itu memang tidak halallah harta-harta rampasan itu untuk siapapun ummat sebelum kita, kemudian Allah menghalalkannya untuk kita harta-harta rampasan tersebut, di kala Allah mengetahui betapa kedhaifan serta kelemahan kita semua. Oleh sebab itu lalu Allah menghalalkannya untuk kita.” (Muttafaq ‘alaih)
Alkhalifaat, dengan fathahnya kha’ mu’jamah dan kasrahnya lam adalah jamaknya khalifatun, artinya ialah unta yang bunting.

Keenam: Dari Abu Khalid yaitu Hakim bin Hizam رضي الله عنه, ia masuk Islam di zaman pembebasan Makkah, sedang ayahnya adalah termasuk golongan pembesar-pembesar Quraisy, baik di masa Jahiliyah ataupun di masa Islam, katanya: “Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda:
“Dua orang yang berjual-beli itu dengan kebebasan – yakni boleh mengurungkan jual- belinya atau jadi meneruskannya – selama keduanya itu belum berpisah. Apabila keduanya itu bersikap benar dan menerangkan – cacat-cacatnya, maka diberi berkahlah jual-beli keduanya, tetapi jikalau keduanya itu menyembunyikan – cacat-cacatnya – dan sama-sama berdusta, maka dileburlah keberakahan jual-beli keduanya itu.” (Muttafaq ‘alaih)

Penjelasan:
Kata Shidqun yang berarti benar itu, maksudnya tidak hanya benar dalam pembicaraannya saja, tetapi juga benar dalam amal perbuatannya. Jadi benar dalam kedua hal itulah yang menurut sabda Nabi صلی الله عليه وسلم dapat menunjukkan ke jalan kebajikan dan kebajikan ini yang menunjukkan ke jalan menuju syurga.
Secara ringkasnya, seseorang itu baru dapat dikatakan benar, manakala ucapannya sesuai dengan amal perbuatan yang dilakukan, atau dengan kata lain ialah manakala amal perbuatannya itu masih bertentangan dengan ucapannya, tetaplah ia dianggap sebagai manusia yang berdusta atau kadzib. Misalnya seorang yang mengaku beragama Islam, tetapi shalat tidak dilakukan, puasa tidak dikerjakan, bahkan mengucapkan dua kalimat syahadat saja tidak dapat, maka dapatkah orang semacam itu dikatakan benar ucapannya. Tentu tidak dapat. Ia tetap berdusta yang oleh Rasulullah صلی الله عليه وسلم disabdakan bahwa kedustaan itu menunjukkan ke jalan kecurangan dan kecurangan itu menunjukkan ke jalan menuju neraka.

Sumber: riyadhus-shalihin
 Dibuat oleh SalafiDB  salafidb.googlepages.com 

Source: Hadits

Tags: artikel islami

author
Author: 

    Related Post "Riyadhus Shalihin: Bab 4: Kebenaran"

    Fiqh Tentang Keistimewaan Hari Jum’at
    Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, sangat memuliakan hari
    Asbabun Nuzul: Surah Al Baqarah 177
    Terjemahan Surah Al baqarah 177 :Bukanlah menghadapkan
    FIQH: Mengenal Ilmu Fiqh
    Ada banyak teropong ilmu Islam yang bisa
    Fatwa Syar’iyyah Seputar Hukum Berafiliasi Kepada Gerakan ‘Freemasonry
    Aliran-aliran Dan Sekte-sekte, Fatwa Syar'iyyah Seputar Hukum

    Leave a reply "Riyadhus Shalihin: Bab 4: Kebenaran"