Imam Bukhari: Kitab Iman. Bab : 31-42

Shahih Bukhari

-Imam Bukhari-
Kitab Iman
Bab 31: Baiknya Keislaman Seseorang
6.[16] Abu Sa’id al-Khudri mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, “Apabila seorang hamba (manusia) masuk Islam dan bagus keislamannya, maka Allah menghapuskan darinya segala kejelekan yang dilakukannya pada masa lalu. Sesudah itu berlaku hukum pembalasan. Yaitu, suatu kebaikan (dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat; sedangkan kejelekan hanya dibalas sepadan dengan kejelekan itu, kecuali jika Allah memaafkannya.”
 32. Abu Hurairah رضي الله عنه berkata, “Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, Apabila seseorang di antara kamu memperbaiki keislamannya, maka setiap kebaikan yang dilakukannya ditulis untuknya sepuluh kebaikan yang seperti itu hingga tujuh ratus kali lipat. Dan setiap kejelekan yang dilakukannya ditulis untuknya balasan yang sepadan dengan kejelekan itu.”
[16] Hadits Ini menurut penyusun (Imam Bukhari) rahimahullah adalah mu’allaq, dan dia di-maushul-kan oleh Nasaa’i denqan sanad sahih, sebagaimana telah ditakhrij dalam Al-Ahaadiitsush Shahihah (247).
Bab 32: Amalan dalam Agama yang Paling Dicintai Allah Azza wa Jalla Ialah yang Dilakukan Secara Konstan (Terus Menerus / Berkesinambungan)
33. Aisyah رضي الله عنها mengatakan bahwa Nabi saw: masuk ke tempatnya dan di sisinya ada seorang wanita [dari Bani Asad 2/48], lalu Nabi bertanya, “Siapakah ini?” Aisyah menjawab, “Si Fulanah [ia tidak pernah tidur malam], ia menceritakan shalatnya.” Nabi bersabda, “Lakukanlah [amalan] menurut kemampuanmu. Karena demi Allah, Allah tidak merasa bosan (dan dalam satu riwayat: karena sesungguhnya Allah tidak merasa bosan) sehingga kamu sendiri yang bosan. Amalan agama yang paling disukai-Nya ialah apa yang dilakukan oleh pelakunya secara kontinu (terus menerus / berkesinambungan).”
Bab 33: Keimanan Bertambah dan Berkurang. Firman Allah, “Dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk” (al-Muddatstsir: 31) dan “Hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu” (al-Maa’idah: 3). Apabila seseorang meninggalkan sebagian dari kesempurnaan agamanya, maka agamanya tidaklah sempurna.
34. Anas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, “Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, ‘Tidak ada Tuhan melainkan Allah’ dan di dalam hatinya ada kebaikan (7 – di dalam riwayat yang mu’alaaq: iman [17] ) seberat biji gandum. Akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, ‘Tidak ada Tuhan melainkan Allah’, sedang di dalam hatinya ada kebaikan seberat biji burr. Dan, akan keluar dari neraka orang yang mengucapkan, ‘Tidak ada Tuhan melainkan Allah’, sedang di hatinya ada kebaikan seberat atom.”
35. Umar ibnul-Khaththab رضي الله عنه mengatakan bahwa seorang Yahudi berkata (dan dalam suatu riwayat: beberapa orang Yahudi berkata 5/127) kepadanya, “Wahai Amirul Mu’minin, suatu ayat di dalam kitabmu yang kamu baca seandainya ayat itu turun atas golongan kami golongan Yahudi, niscaya kami jadikan hari raya.” Umar bertanya, “Ayat mana itu?” Ia menjawab, “Al-yauma akmaltu lakum diinakum wa atmamtu ‘alaikum ni’matii waradhiitu lakumul islaamadiinan” ‘Pada hari ini Aku sempurnakan bagimu agamamu dan Aku sempurnakan atasmu nikmat-Ku dan Aku rela Islam sebagai agamamu’.” Lalu Umar berkata, “Kami telah mengetahui hari itu dan tempat turunnya atas Nabi صلی الله عليه وسلم, yaitu beliau sedang berdiri di Arafah pada hari Jumat. [Demi Allah, saya pada waktu itu berada di Arafah].”
 [17] Di-maushul-kan oleh Hakim dalam Kitab Al-Arba’in dan di situ Qatadah menyampaikan dengan jelas dengan menggunakan kata tahdits ‘diinformasikan’ dari Anas. Saya (Al-Albani) katakan, “Dan di-maushul-kan oleh penyusun (Imam Bukhari) dari jalan lain dari Anas di dalam hadits safa’at yang panjang, dan akan disebutkan pada “(7 -At-Tauhid / 36)”.
Bab 34: Membayar Zakat adalah Sebagian dari Islam. Firman Allah, “Padahal mereka tidak disuruh kecuali menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus.”
36. Thalhah bin Ubaidillah رضي الله عنه berkata, “Seorang laki-laki (dalam satu riwayat disebutkan: seorang Arab dusun 2/225) penduduk Najd datang kepada Rasulullah صلی الله عليه وسلم dengan morat-marit (rambut) kepalanya. Kami mendengar suaranya tetapi kami tidak memahami apa yang dikatakannya sehingga dekat. Tiba-tiba ia bertanya tentang Islam (di dalam suatu riwayat disebutkan bahwa ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, beri tahukanlah kepadaku, apa sajakah shalat yang diwajibkan Allah atas diriku?). Lalu Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, “Shalat lima kali dalam sehari semalam.” Lalu ia bertanya lagi, “Apakah. ada kewajiban atasku selainnya?” Beliau bersabda, “Tidak, kecuali kalau engkau melakukan yang sunnah.” Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, “Dan puasa (dan di dalam satu riwayat disebutkan: “Beri tahukanlah kepadaku, apa sajakah puasa yang diwajibkan Allah atasku?” Lalu beliau menjawab, “Puasa pada bulan”) Ramadhan.” Ia bertanya lagi, “Apakah ada kewajiban atasku selainnya?” Beliau bersabda, “Tidak, kecuali sunnah.” [Lalu dia berkata, “Beri tahukanlah kepadaku, apakah zakat yang diwajibkan Allah atasku?” 2/225]. Thalhah berkata, “Rasulullah صلی الله عليه وسلم menyebutkan kepadanya zakat” (Dan dalam satu riwayat disebutkan bahwa Rasulullah صلی الله عليه وسلم memberitahukan kepadanya tentang syariat-syariat Islam). Lalu dia bertanya, “Apakah ada kewajiban selainnya atas saya?” Beliau menjawab, “Tidak, kecuali jika engkau mau melakukan yang sunnah.” Kemudian laki-laki itu berpaling seraya berkata, “Demi Allah, saya tidak menambah dan tidak pula mengurangi [sedikit pun dari apa yang telah diwajibkan Allah atas diri saya] ini.” Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, “Berbahagialah dia, jika (dia) benar.”
Bab 36: Kekhawatiran Orang yang Beriman jika Sampai Terhapus Amalnya Tanpa Disadarinya
9.[18] Ibrahim at Taimi berkata, ‘Tidak pernah perkataanku sebelum aku melakukan (atau) aku menunjukkan amal perbuatanku, melainkan aku takut kalau-kalau aku nanti akan disudutkan oleh amalan yang tidak jadi aku lakukan.”
 10.[19] Ibnu Abi Mulaikah berkata, “Aku mengunjungi tiga puluh sahabat Nabi صلی الله عليه وسلم dan masing-masing khawatir dengan munafik dan tak seorang pun di antara mereka yang mengatakan bahwa keimanannya sama kuatnya seperti yang ada pada Jibril dan Mikail.”
 11.[20] Al-Hasan al-Bashri berkata, ‘Tiada seorang pun yang takut akan hal itu (yakni kemunafikan) melainkan ia adalah orang mukmin yang sebenar-benarnya dan tiada seorang pun yang merasa aman akan hal itu melainkan ia pasti seorang yang munafik.”
 38. Ziad berkata, “Aku bertanya kepada Wa-il tentang golongan Murji-ah,[21] lalu dia berkata, ‘Aku diberi tahu oleh Abdullah bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda’, “Mencaci maki orang muslim adalah fasik dan memeranginya adalah kafir.”
[18] Di-maushul-kan oleh penyusun dalam At-Tarikh dan Ahmad dalam Az-Zuhd dengan sanad sahih darinya. [19] Di-maushul-kan oleh Ibnu Abi Khaitsamah di dalam Tarikh-nya, tetapi dia tidak menyebutkan jumlahnya. Demikian pula Ibnu Nashr di dalam Al-Iman, dan Abu Zur’ah ad-Dimasyqi di dalam Tarikh-nya dari jalan lain darinya sebagaimana disebutkan di sini. [20] Di-maushul-kan oleh Ja’far al-Faryabi di dalam Shifatul Munafiq dari beberapa jalan dengan lafal yang berbeda-beda. Hal ini menunjukkan sahihnya riwayat ini darinya. Maka, bagaimana bisa terjadi penyusun meriwayatkannya dengan menggunakan kata-kata “wa yudzkaru” ‘dan disebutkan’ yang mengesankan bahwa ini adalah hadits dhaif? Al-Hafizh menjawab hal itu yang ringkasnya bahwa penyusun (Imam Bukhari) tidak mengkhususkan redaksi tamridh ‘melemahkan’ ini sebagai melemahkan isnadnya, bahkan dia juga menyebutkan matan dengan maknanya saja atau meringkasnya juga. Hal ini perlu dipahami karena sangat penting. [21] Mereka adalah salah satu dari kelompok-kelompok sesat. Mereka berkata, “Maksiat itu tidak membahayakan iman.”
Bab 37: Pertanyaan Malaikat Jibril kepada Nabi صلی الله عليه وسلم tentang iman, Islam, ihsan, pengetahuan tentang hari kiamat, dan keterangan yang diberikan Nabi صلی الله عليه وسلم kepadanya, lalu beliau bersabda, “Malaikat Jibril عليه السلام datang untuk mengajarkan kepada kalian agama kalian.” Maka, Nabi صلی الله عليه وسلم menganggap bahwa semuanya itu sebagai agama.[ 22 ] Semua yang diterangkan Nabi صلی الله عليه وسلم kepada tamu Abdul Qais (tersebut) termasuk keimanan. Dan firman Allah, “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidak akan diterima agama itu daripadanya. ” (Ali Imran : 85)
(Saya berkata, “Dalam hal ini Imam Bukhari meriwayatkan hadits Jibril yang diisyaratkan itu dari hadits Abu Hurairah yang akan datang [65-at-Tajsir/21-asSurah 2-Bab]”). 
Abu Abdillah berkata, “Beliau menjadikan semua itu termasuk keimanan.”
[22] Menunjuk hadits Ibnu Abbas yang akan disebutkan secara maushul sesudah dua bab lagi.
Bab 39: Keutamaan Orang yang Membersihkan Agamanya
39. An-Nu’man bin Basyir berkata, “Saya mendengar Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda, “Yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, dan di antara keduanya terdapat hal-hal musyabbihat (dan dalam satu riwayat: perkara-perkara musytabihat / samar, tidak jelas halal-haramnya, 3/ 4), yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Barangsiapa yang menjaga hal-hal musyabbihat, maka ia telah membersihkan kehormatan dan agamanya. Dan, barangsiapa yang terjerumus dalam syubhat, maka ia seperti penggembala di sekitar tanah larangan, hampir-hampir ia terjerumus ke dalamnya. 
(Dalam satu riwayat disebutkan bahwa barangsiapa yang meninggalkan apa yang samar atasnya dari dosa, maka terhadap yang sudah jelas ia pasti lebih menjauhinya; dan barangsiapa yang berani melakukan dosa yang masih diragukan, maka hampir-hampir ia terjerumus kepada dosa yang sudah jelas). Ketahuilah bahwa setiap raja mempunyai tanah larangan, dan ketahuilah sesungguhnya tanah larangan Allah adalah hal-hal yang diharamkan-Nya (dan dalam satu riwayat: kemaksiatan-kemaksiatan itu adalah tanah larangan Allah). Ketahuilah bahwa di dalam tubuh ada sekerat daging. Apabila daging itu baik, maka seluruh tubuh itu baik; dan apabila sekerat daging itu rusak, maka seluruh tubuh itu pun rusak. Ketahuilah, dia itu adalah hati.”
Bab 40: Memberikan Seperlima dari Harta Rampasan Perang Termasuk Keimanan
40. Abi Jamrah berkata, “Aku duduk dengan Ibnu Abbas dan ia mendudukkan aku di tempat duduknya. Dia berkata, Tinggallah bersamaku sehingga aku berikan untukmu satu bagian dari hartaku.’ Maka, aku pun tinggal bersamanya selam dua bulan. (Dan dalam satu riwayat: ‘Aku menjadi juru bicara antara Ibnu Abbas dan masyarakat 1/ 30). (Kemudian pada suatu saat dia berkata kepadaku). (Dan dalam satu riwayat: Aku berkata kepada Ibnu Abbas, ‘Sesungguhnya aku mempunyai guci untuk membuat nabidz ‘minuman keras’, lalu aku meminumnya dengan terasa manis di dalam guci itu jika aku habis banyak. Kemudian aku duduk bersama orang banyak dalam waktu yang lama karena aku takut aku akan mengatakan sesuatu yang memalukan.’ (Lalu Ibnu Abbas berkata 5/116), ‘Sesungguhnya utusan Abdul Qais ketika datang kepada Nabi صلی الله عليه وسلم, beliau bertanya, ‘Siapakah kaum itu atau siapakah utusan itu?’ Mereka menjawab, ‘[Kami adalah satu suku dari 7/114] Rabi’ah.’ (Dan dalam satu riwayat: ‘Maka kami tidak dapat datang kepadamu kecuali pada setiap bulan Haram’ 4/157). Beliau bersabda, ‘Selamat datang kaum atau utusan (yang datang) tanpa tidak kesedihan dan penyesalan.” Mereka berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami tidak dapat datang kepada engkau kecuali pada bulan Haram, karena antara kita ada perkampungan ini yang (berpenghuni) kafir mudhar. [Kami datang kepadamu dari tempat yang jauh], maka perintahkanlah kami dengan perintah yang terperinci (dan dalam satu riwayat: dengan sejumlah perintah). [Kami ambil dari engkau dan 1/133] kami beri tahukan kepada orang-orang yang di belakang kami dan karenanya kami masuk surga [jika kami mengamalkannya’ 8/217]. Mereka bertanya kepada beliau tantang minuman. Lalu beliau menyuruh mereka dengan empat perkara dan melarang mereka (dan dalam satu riwayat disebutkan bahwa beliau bersabda, ‘Aku perintahkan kamu dengan empat perkara dan aku larang kamu) dari empat perkara, yaitu aku perintahkan kamu beriman kepada Allah (Azza wa Jalla) saja.’ Beliau bertanya, ‘Tahukah kalian apakah iman kepada Allah sendiri itu? Mereka berkata, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.’ Beliau bersabda, ‘Bersaksi tidak ada Tuhan melainkan Allah dan sesungguhnya Muhammad itu utusan Allah [dan beliau menghitung dengan jarinya 4/44], mendirikan shalat, memberikan zakat, puasa Ramadhan, dan kalian memberikan harta seperlima harta rampasan perang. Lalu, beliau melarang mereka dari empat hal yaitu (dan dalam satu riwayat: Janganlah kamu minum dalam) guci hijau, labu kering, pohon korma yang diukir, dan sesuatu yang dilumuri fir (empat hal ini adalah alat untuk membuat minuman keras).’ Barangkali beliau bersabda (juga), ‘Barang yang dicat.’ Dan beliau bersabda, ‘Peliharalah semua itu dan beri tahukanlah kepada orang yang di belakang kalian!”
Bab 41: Keterangan tentang apa yang terdapat dalam hadits bahwa sesungguhnya semua amal perbuatan itu tergantung pada niat dan harapan memperoleh pahala dari Allah sesuai dengan apa yang diniatkannya. Bab ini meliputi keimanan, wudhu, shalat, zakat, haji, puasa, dan hukum-hukum. Allah berfirman, “Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing. ” (al-Israa’: 84)
10.[23] Nafkah yang dikeluarkan seorang laki-laki untuk keluarganya dengan niat untuk memperoleh suatu pahala dari Allah adalah sedekah.
 11.[24] Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, “Tetapi jihad dan niat.”
Bab 42: Sabda Nabi صلی الله عليه وسلم, “Agama adalah nasihat (kesetiaan) kepada Allah, Rasul-Nya, pemimpin-pemimpin kaum muslimin dan umat nya.”[ 25 ] Dan firman Allah Ta’ala, “Apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul Nya.”(at-Taubah: 91)
41. Jarir bin Abdullah berkata, “Saya berbaiat kepada Rasulullah صلی الله عليه وسلم untuk [bersaksi bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, dan 3/27] mendirikan shalat, memberikan zakat, [mendengar dan patuh, lalu beliau mengajarkan kepadaku apa yang mampu kulakukan 8/122], dan memberi nasihat kepada setiap muslim.” Dan, menurut riwayat lain dari Ziyad bin Ilaqah, ia berkata, “Saya mendengar Jarir bin Abdullah berkata pada hari meninggalnya Mughirah bin Syu’bah. Ia (Jarir) berdiri, lalu memuji dan menyanjung Allah, lalu berkata, ‘Hendaklah kamu semua bertakwa kapada Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Juga hendaklah kamu semua bersikap tenang dan tenteram sehingga amir, penguasa daerah, datang padamu, sebab ia nanti akan datang ke sini.’ Kemudian ia berkata lagi, ‘Berilah maaf pada amirmu (pemimpinmu), sebab pemimpin (kalian) senang memberi maaf orang lain. Seterusnya Jarir berkata, ‘Amma ba’du, (kemudian) aku datang kepada Nabi صلی الله عليه وسلم dan aku berkata, ‘Aku berbaiat kepadamu atas Islam.’ Lalu beliau mensyaratkan atasku agar menasihati setiap muslim. Maka, saya berbaiat kepada beliau atas yang demikian ini. Demi Tuhan Yang Menguasai masjid ini, sesungguhnya aku ini benar-benar memberikan nasihat kepada kamu sekalian.’ Sehabis itu ia mengucapkan istighfar (mohon pengampunan kepada Allah), lalu turun (yakni duduk).”
[25] Di-maushul-kan oleh Muslim dan lainnya dari hadits Tamim ad-Dari, dan hadits ini telah ditakhrij dalam Takhrij al-Halal (328) dan Irwa-ul Ghalil (25).

Sumber: Ringkasan Shahih Bukhari – M. Nashiruddin Al-Albani – Gema Insani Press (HaditsWeb)       

Source: Hadits

Incoming search terms:

Tags: artikel islami

author
Author: 

    Related Post "Imam Bukhari: Kitab Iman. Bab : 31-42"

    Fiqh Tentang Keistimewaan Hari Jum’at
    Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, sangat memuliakan hari
    Asbabun Nuzul: Surah Al Baqarah 177
    Terjemahan Surah Al baqarah 177 :Bukanlah menghadapkan
    FIQH: Mengenal Ilmu Fiqh
    Ada banyak teropong ilmu Islam yang bisa
    Fatwa Syar’iyyah Seputar Hukum Berafiliasi Kepada Gerakan ‘Freemasonry
    Aliran-aliran Dan Sekte-sekte, Fatwa Syar'iyyah Seputar Hukum

    Leave a reply "Imam Bukhari: Kitab Iman. Bab : 31-42"